Thursday, April 28, 2011

Rumah Makan Sindang Heula (Abah)

Karena perjalanan aku dan hubby dari Jakarta ke Magelang terhambat kemacetan yang luar biasa parah di Pantura, kita memutuskan untuk mengubah rute melalui Subang – Lembang – Bandung, baru kembali lagi ke jalur Pantura melalui Cirebon.

Sebenarnya kita bisa langsung menuju Bandung tanpa melewati Subang dan Lembang, tapi mumpung kita ada di daerah sana, kita ingin mampir ke rumah makan Abah. Jadi ceritanya, dulu waktu kita berdua sering ke Bandung, waktu jalan tol Sadang masih belum ada, kita sering melewati daerah Subang dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Di Subang itulah kita sering mampir makan ikan mas bakar di rumah makan Abah. Ikan bakar di sana cocok sekali dengan selera kita berdua. Beberapa kali kita mencoba makan ikan mas bakar di tempat lain, tapi rasanya tidak ada yang seenak ini.

Di rumah makan Sindang Heula atau yang lebih dikenal dengan Abah ini, selain pelayanannya yang cepat, daging ikan masnya yang lembut dan sambalnya yang mantap dan sangat pedas di lidah, pemandangan alam yang terlihat dari rumah makannya benar – benar menyejukkan mata. Enak sekali duduk bersantai di sini –apalagi saat sore hari- sambil makan ikan mas bakar yang masih panas, nasi putih disertai sambal atau tambahan lauk, seperti bakwan jagung / sayur, tempe goreng dan tumis jamur.

Mereka juga menyediakan tempat makan lesehan yang terletak di atas kolam ikan mas. Jadi saat menunggu makanan siap, kita bisa melihat ikan – ikan tersebut dari tempat kita duduk. Kita juga boleh memberi mereka makanan. Seru sekali, lho..karena mereka akan berebut makanan tersebut dengan rakusnya.

Sindang Heula aka Abah


Ruangan rumah makan yang luas dan sejuk

Pemandangan yang terlihat dari tempat lesehan

Pemandangan dari teras rumah makan

Ikan mas bakar, salah satu menu andalan di Abah

Beberapa pilihan lauk tambahan







Sunday, April 17, 2011

Mencintaimu pagi, siang, malam (Kumpulan Puisi)




Buku yang berisi kumpulan puisi karya Andrei Aksana ini langsung menarik perhatianku karena desain covernya. Ga tau kenapa, aku selalu suka dengan warna merah di atas putih :)

Dan waktu aku asal membuka salah satu halamannya dan membaca isinya, aku makin penasaran sekaligus tertarik. Menurut aku, puisi - puisinya cukup ringan, ga bikin dahi berkerut untuk bisa mengerti arti di baliknya tapi sekaligus juga sangat indah dan menyentuh. Pas banget untuk dibaca waktu kita sedang bersantai. Salah satu buku yang harus aku bawa saat travelling :)

Penasaran? Ini beberapa puisinya :





My Stupid Boss 3



Buku terbaru dari penulis yang menamakan dirinya chaos@work. Dan seperti buku - buku sebelumnya (My Stupid Boss 1 & 2), buku yang ini juga sukses bikin aku ngakak habis! Bacaan yang ringan, seringan - ringannya, dan terutama cocok dibaca saat kita sedang merasa bete :))

Aku juga suka sama desain cover nya dengan tulisan timbul dan perpaduan warna merah di atas putih. Moga - moga saja masih ada kelanjutannya : My Stupid Boss 4. Hehehe...

Saturday, April 16, 2011

Bali Once More

Bulan Februari 2011, sekali lagi aku dan hubby jalan - jalan ke Bali. Kenapa ke Bali lagi? Jadi ceritanya, tahun lalu, aku beli voucher hotel Mara River Safari Lodge Bali waktu ada pameran travel di JCC. Lumayan lho, diskonnya sampai 50% dari harga kamar. Dan voucher itu bisa digunakan hanya sampai akhir Maret 2011. Itulah salah satu alasan kenapa kita memilih Bali lagi sebagai tujuan jalan - jalan kita Februari lalu. Padahal sebenarnya hubby sudah mulai bosen jalan - jalan ke Bali, maunya cari tempat lain yang kita belum pernah pergi. Kalau aku sih, mau berapa kali ke Bali juga ga masalah. Habis, tiap kali pergi ke sana, pasti ada saja pengalaman baru, suasana baru :)


TRANSPORT
Seperti biasa, kita memilih Air Asia sebagai sarana transportasi kita dari Jakarta - Bali - Jakarta. Karena bukan musim promo, harga tiket yang kita dapat juga ga terlalu murah. Untuk penerbangan pulang pergi berdua, total tiket sekitar Rp. 1.400.000; sudah termasuk satu bagasi yang 15 kg. Penerbangan Jakarta - Bali ga ada delay sama sekali tapi untuk penerbangan Bali - Jakarta, sempat ada delay sekitar satu jam. Yah, ga parah - parah amat, lah untungnya. 
Dan ternyata perjalanan kita ke Bali bertepatan dengan konsernya Iron Maiden. Pantes, malam pertama di Bali, area Kuta dan Legian yang biasa rame, jadi sepi banget. Sepertinya banyak turis asing maupun lokal yang sengaja datang ke Bali untuk menonton konsernya.

Pesawatnya Iron Maiden tampak dari jauh di bandara Ngurah Rai.

Di Bali, tepatnya waktu kita menginap di kawasan Poppies lane, kita sempat menyewa motor selama dua hari. tarif per harinya adalah Rp. 50.000;. Motor kita sewa dari salah seorang karyawan hotel tempat kita menginap karena kebetulan selain kerja di sana, dia juga mempunyai usaha sampingan, yaitu menyewakan motor dan mobil. Seandainya kita menyewa motor di pinggir - pinggir jalan, sepertinya tarifnya akan lebih murah karena saat itu sepertinya Bali sedang sepi alias low season.



AKOMODASI
Harmony Legian
Hotel yang satu ini memang sudah jadi langganan kita tiap kali kita ke Bali. Dengan tarif kamar seharga Rp. 350.000; / malam, kita sudah mendapatkan cukup banyak fasilitas, seperti antar jemput bandara - hotel - bandara, makan pagi, AC, air panas untuk mandi, TV dengan chanel internasional, wifi dan adanya kolam renang di hotel, meskipun kecil.

Apalagi lokasinya yang terbilang sangat strategis, karena berada di jalan Legian. Mau belanja? Tinggal jalan kaki keluar hotel, ambil arah kiri atau ke kanan. Mau sewa mobil / motor? Tinggal pesan di resepsionis, dengan tarif standar. Kebersihan kamar dan area lobby maupun kolam renang juga cukup bagus, kok.

Harmony Hotel Legian


Pesona Beach Inn
Aku dapat informasi tentang hotel ini dari rekomendasi sesama travellers di internet. Hubby pengen coba menginap di hotel yang lebih murah dari Harmony tapi masih di kawasan Kuta atau Legian. Banyak sekali rekomendasi / review tentang hotel - hotel backpackers di kawasan Poppies lane dan ada beberapa hotel yang masuk dalam daftarku. Karena banyak yang bilang kalau Pesona Beach Inn (PBI) ini sangat bersih meskipun murah, aku memutuskan untuk mencoba menginap di sana untuk dua malam.

Ternyata apa yang kita dapat di PBI melebihi harapan kita. Kamarnya sangat bersih, kecuali lemari pakaian dan laci - laci meja TV nya yang agak berdebu. Tapi itu ga jadi masalah sama sekali. Yang jelas, kecil sekali kemungkinan binatang yang aku benci, yaitu kecoak, mau masuk ke kamar yang sebersih itu. Kamar mandinya pun sangat bersih, dilengkapi dengan kaca, wastafel, dan air panas. Enaknya lagi, kita dapat kamar persis di depan kolam renang. Jadi kalau mau berenang gampang, ga usah kunci - kunci pintu segala.

Makan pagi juga tersedia dan sudah termasuk dalam tarif kamar yang seharga Rp. 280.000; / malamnya. Bukan makan pagi yang mewah sih, hanya satu teko kopi / teh, 2 lembar roti tawar panggang, telur, selai dan mentega serta potongan buah - buahan. Yang penting bisa bikin kenyang :)

Memang dari segi pelayanan, Harmony masih lebih unggul. Staff di PBI meskipun ramah tapi terkesan masih kurang profesional. Tapi sekali lagi, itu bukan masalah buat kita. Malah, kalau ada kesempatan ke Bali lagi, kita pasti akan menginap di sana...lagi :)

Jalan masuk ke Pesona Beach Inn dari Poppies 1



Taman di dalam Pesona Beach Inn

Kamar kita di lantai 1 di depan kolam renang

Kamar mandi yang bersih, lengkap dengan bathtub dan air panas

Makan paginya


Mara River Safari Lodge
Hotel ini terletak di daerah Gianyar, sekitar satu jam perjalanan dari bandara Ngurah Rai, di dalam kompleks Bali Safari and Marine Park. Jauh? Jangan khawatir, karena mereka menyediakan fasilitas antar jemput untuk tamu yang menginap di sana.

Kalau memang ada dana lebih, boleh lah menginap di sini meskipun hanya untuk satu malam. Untung, tahun lalu aku sempat ke pameran travel di Jakarta dan mendapatkan diskon 50% untuk menginap di Mara. Aku dan hubby menginap di unit Twiga, yang terletak di lantai dua. Kondisi kamar bersih dan dilengkapi fasilitas - fasilitas seperti layaknya hotel berbintang. Uniknya, di masing - masing kamar juga disediakan satu keranjang kecil berisi wortel. Jadi kalau kita sedang iseng atau bersantai di balkon, kita bisa melempar wortelnya ke zebra - zebra yang sering merumput di halaman bawah. Atau kita bisa membawa wortelnya ke samping kolam renang untuk memberi makan rusa - rusa yang dibiarkan berkeliaran dengan bebas di sana. Pengalaman yang ga boleh dilewatkan :)

Untuk makan malam, hanya ada satu restoran di sana, yaitu Tsavo Lion Restaurant. Sebelumnya kita harus memesan meja dulu di resepsionis hotel atau langsung di restorannya supaya kita bisa mendapatkan meja di sebelah kaca yang memisahkan pengunjung restoran dengan singa - singa di Taman Safarinya. Sambil makan malam, kita bisa melihat aktivitas para singa di depan mata kita tanpa dibatasi oleh pagar, hanya kaca yang sangat besar. Makanannya enak, harganya pun masih terjangkau. Untuk makan paginya, gratis! Karena itu sudah termasuk dalam harga kamar.

Jangan lupa juga untuk menyediakan waktu berkeliling di Taman Safarinya. Meskipun tidak seluas Taman Safari yang ada di Puncak, tapi hewan - hewan yang ada di sini sepertinya lebih beragam. Tempatnya juga lebih bersih daripada Taman Safari Puncak.

Tempat tidurnya
Kamar mandinya
Jalanan di depan kamar
Bisa kasih wortel ke rusa - rusa yang ada di samping kolam renang


MAKAN - MAKAN
Flapjaks
Ini yang pertama kalinya kita makan di Flapjacks, gara - gara aku tertarik dengan review nya di internet. Kita coba makan pancake nya, gelato nya dan juga peach tea nya. Kesimpulannya, semuanya enak! Sayang hubby ga terlalu suka sama pancake nya. Selera orang memang beda - beda ya..


Flapjaks


Maxi Restaurant
Di sini kita makan sate campur dan sop buntut, sudah lengkap dengan nasi putih. Semuanya enak! Harga juga standar.

Maxi resto waktu malam

Si Doi Restaurant
Ini sudah yang kesekian kalinya kita makan di sini. Menunya juga selalu sama, yaitu pork chop. Kalau menurutku, dengan porsi yang besar, harga yang dipatok cukup murah. Tapi selain pork chop, mereka juga menyediakan menu - menu yang lain, lho.

Pork steak

Tsavo Lion Restaurant
Kalau yang ini sih sudah pasti OK banget! Makanannya enak, pelayanannya bagus, tempatnya juga unik. Sayang lokasinya jauh dari daerah Kuta / Legian.

Makan malam di Tsavo
Dengan lokasi singa sebagai latar belakangnya
Makan pagi di Tsavo

Bamboo Corner
Kita makan di sini karena review yang bagus di internet dan karena kebetulan restoran ini dekat dengan tempat kami menginap. Memang harganya murah tapi waktu itu kami memesan chinese food dan menurut kami, itu adalah makanan paling tidak enak yang pernah kita makan di Bali. Mungkin western atau indonesian food nya lebih enak??


JALAN - JALAN
Pantai Kuta
Yep! Kalau ke Bali, pasti harus ke sini, meskipun cuma duduk - duduk sebentar untuk menunggu matahari terbenam. Tapi sayang, kali ini, untuk yang kesekian kalinya, kita melihat banyak sampah bertebaran di sepanjang pantai. Belum lagi, pedagang - pedagang yang menawarkan pijit atau barang dagangan mereka dengan setengah 'memaksa'. Lama kelamaan, kok kita merasa bahwa pantai Kuta makin tidak nyaman. Belum lagi, makin banyaknya hotel - hotel mewah yang dibangun di sepanjang jalan pantai. Jadi makin mirip Jakarta :(

Pantai Kuta di pagi hari

Pantai Dreamland
Aku pernah ke sini bersama keluarga bertahun - tahun yang lalu, waktu masih belum banyak orang yang mendengar tentang keberadaan pantai ini. Waktu jalan masuk dari gerbang Pecatu saja masih jelek banget, dan untuk turun ke pantainya, kita harus turun melalui tangga batu yang cukup curam. Dulu pantainya masih bisa dibilang indah, sepi. Makanya aku terus berusaha mengajak hubby ke sini, karena aku tahu dia pasti suka.

Pas kemarin kita ke sini, wahh... ternyata pantainya sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Banyak dibangun resort - resort mewah di sekitarnya, toko - toko dan yang lebih parah lagi, banyaknya sampah yang mengumpul di salah satu pojokan pantai. Sepertinya, hubby tidak mau lagi diajak ke Dreamland. Dia bilang, "Ternyata sudah jauh - jauh ke sini, pantainya cuma begini!" :(  Memang modernitas tidak selamanya bagus.

Pantai Dreamland / the new Kuta beach
Terpesona oleh Dreamland
Sewa kursi pantai sepasang Rp. 50.000; untuk seharian
Terpaku oleh banyaknya sampah yang mengumpul

Pantai Gado - Gado
Waktu kemarin iseng - iseng melihat peta Kuta / Legian / Seminyak, ada satu pantai yang cukup sering disebut di internet tapi belum pernah kita kunjungi. Jadi, berangkatlah kita ke sana dengan menggunakan motor. Lupa pakai jaket lagi, padahal siang hari itu, Bali panas banget! Pulang dari sana, kulit langsung gosong :D

Pantainya berpasir hitam dan lebih banyak turis asing daripada lokal. Mungkin karena di sekitarnya, banyak bertebaran hotel - hotel mewah. Tapi yang namanya pedagang tetap ada saja. Baru 'mendarat' di pantainya, aku sudah disambut oleh ibu - ibu penjual gelang, kalung, termasuk yang menjual jasa pijit dan mempercantik kuku. Karena iseng, aku membiarkan kuku jari tanganku dicat ala Bali, dengan gambar bunga - bunga, tentunya setelah proses menawar yang agak panjang. Sempat membeli tiga buah gelang kaki juga karena capek dipaksa untuk beli. Tapi tetap saja banyak pedagang yang menghampiri dan 'memaksa' aku untuk membeli barang dagangan mereka, padahal barangnya juga sama, gelang - gelangan juga... Tidak terhitung berapa kali aku harus menolak mereka. Fiuh... Hubby sih sudah kabur duluan untuk foto - foto.

Sepertinya lain kali ke Bali lagi, kita bakal datang ke pantai ini lagi. Meskipun pantainya tidak bisa buat berenang, tapi suasananya lebih sepi dan lebih bersih dibanding pantai Kuta.

Santai sejenak

Cat kuku ala Bali


Payung pantai dengan logo AirAsia
Sepasang
Penjaga pantainya

Discovery Mall
Sudah beberapa kali ke Bali, tapi baru kali ini kita mendengar tentang mall ini yang pintu belakangnya langsung mengarah ke pantai. Hasilnya, selama kemarin kita di Bali, beberapa kali kita datang ke sini untuk sekedar foto - foto, jalan - jalan di pantainya dan hubby malah sempat membeli kamera di sini untuk menggantikan kamera kita yang rusak pas di Bali kemarin.

Di depan salah satu resto di kawasan Discovery Mall


Jadi itulah cerita aku tentang jalan - jalan kita ke Bali dua bulan yang lalu. Moga - moga pas lain kali kita ke Bali lagi, pantai - pantainya sudah jauh lebih bersih.




Sunday, February 27, 2011

Museum Benteng Vredeburg - Yogyakarta

Aku dan hubby menemukan lokasi ini secara tidak sengaja. Sebenarnya kita ke Yogya dalam rangka menemani saudara yang ingin berbelanja batik di Pasar Beringharjo. Tapi suasana siang Yogya yang sangat panas, ditambah dengan berjubelnya pembeli dan penjual di dalam pasar, aku dan hubby memutuskan untuk menunggu di parkiran mobil. Paling tidak di sana kita bisa berteduh di bawah pohon beringin besar yang ada di taman belakang parkiran mobil kami. Saat menunggu itulah, kita melihat sebuah bangunan besar dan kokoh di sebelah kanan area parkir. Kita juga melihat tulisan VREDEBURG di bangunan itu. Karena penasaran, kita berdua mulai berjalan menuju ke sana. Kita melewati parit yang cukup besar di kanan dan kiri kami serta beberapa orang yang sepertinya baru keluar dari Vredeburg.

Untuk memasuki lokasi Vredeburg, kita diharuskan membeli tiket -kalau tidak salah ingat- sebesar Rp. 2000; / orang. Saat membeli tiket itulah, kita membaca beberapa papan petunjuk di sana, dan saat itu kita baru tahu kalau Vredeburg itu dulunya adalah sebuah benteng yang dibangun tahun oleh VOC di Yogyakarta pada tahun 1765 sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan Gubernur Belanda saat itu. Sekarang, benteng yang mempunyai empat menara pantau di keempat sudutnya itu dijadikan museum.

Begitu melewati bagian penjualan tiket, kita dihadapkan pada sebuah ruang terbuka yang luas. Di bagian kanan dan kiri terdapat bangunan yang cukup kokoh. Di sana, disewakan juga sepeda - sepeda kuno dengan biaya sewa yang cukup murah. Kita langsung memasuki sebuah bangunan di mana terdapat diorama di dalamnya tentang sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah. Walaupun gedungnya terkesan kuno tapi cukup bersih dan dilengkapi dengan AC. Begitu juga halnya dengan gedung - gedung lain yang berisi diorama.

Saat itu kita melihat banyak remaja yang menggunakan lokasi Vredeburg untuk berfoto ria, ada juga beberapa pasangan yang sedang berfoto untuk pre-wedding. Sepertinya lokasi Vredeburg ini memang terawat. Tamannya, gedungnya...semuanya dalam keadaan bersih. Kita juga sempat mencoba menyewa salah satu sepeda dan menggunakannya untuk berkeliling Vredeburg. Setelah puas, kita duduk - duduk di bangku yang terdapat di halaman tengahnya.

Sungguh suatu tempat yang sayang dilewatkan bila kita mengunjungi Yogyakarta.

Salah satu papan denah di Vredeburg
Halaman tengah yang sangat lapang

Diorama 1

Diorama 2

Mesin ketik kuno

Salah satu toilet di Vredeburg

Bisa naik sepeda putar - putar di sini











Friday, February 11, 2011

Suatu Hari di Surabaya

Perjalanan kali ini adalah perjalanan dadakan dalam rangka memberikan kejutan untuk sepupu yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Kita -aku & hubby ditambah keluarga dan famili- berdelapan berangkat dari Magelang ke Yogyakarta dengan mobil pribadi. 

Perjalanan dimulai lebih awal dari rencana karena ada berita bahwa di Kali Putih sedang ada penutupan jalan dikarenakan banjir lahar Merapi. Padahal itu adalah rute yang biasa kita lewati untuk menuju ke Yogya. Akhirnya, kita terpaksa melewati jalur alternatif yang macetnya luar biasa parah. Kita sudah mulai berpikir bahwa kita ga akan bisa sampai di stasiun Tugu, Yogya tepat waktu. Siap - siap ketinggalan kereta, nih! Pak sopir pun kita komando untuk ngebut. Hasilnya, selain khawatir bahwa kita akan ketinggalan kereta, kita juga khawatir tingkat tinggi bakal ditabrak atau menabrak mobil lain. Dan sumpah...aku ga mau lagi kejadian seperti itu terulang lagi. 

Setelah adrenalin kita terpacu selama hampir 2,5 jam, sampailah kita di stasiun Tugu dengan selamat. Kita juga masih punya waktu 15 menit sebelum kereta dijadwalkan datang. Ternyata, kereta kita datangnya terlambat satu jam! Ga tau penyebabnya apa. Kalau tahu begini, kan kita ga harus maksa ngebut seperti itu :( Sebelumnya, dari mobil aku sudah coba telpon ke layanan informasi stasiun Tugu untuk menanyakan apakah keretanya datang tepat waktu atau ga. Telpon berkali - kali ke dua nomer yang kita dapat dari 108, ga ada yang angkat!! Padahal nadanya juga bukan nada sibuk... Ini nih, salah satu hal yang harus diperbaiki supaya layanan publik di Indonesia berfungsi dengan baik.

Oke, jadi akhirnya kereta datang dan ga perlu menunggu lama, kereta memulai perjalanannya ke Surabaya.  Kereta yang kita tumpangi termasuk kereta eksekutif dengan jurusan Bandung - Surabaya. Kita membeli tiketnya di sebuah travel agent di Magelang seharga Rp. 150.000 / orang. Sayangnya, kereta itu ga sebersih yang perkirakan semula. Ga berapa lama kereta jalan, mulailah keluar anak - anak kecoa yang merayap diam - diam di sisi kereta. Selain itu, ada noda yang ga jelas di salah satu bangku yang kita pakai. Aku berusaha  mengabaikannya dan mencoba untuk tidur. Di stasiun Madiun, kereta berhenti sebentar dan saat itu juga, beberapa dari kita membeli nasi pecel Madiun yang dibungkus dengan daun seharga Rp. 3000; / bungkus dari penjual yang menjajakan dagangannya sambil berteriak dari pintu kereta. Rasa nasinya biasa saja, menurutku, porsinya juga sedikit tapi banyak yang bilang enak! Mungkin karena harganya yang murah dan perut yang kelaparan setelah beberapa jam di kereta.

Setelah kurang lebih 7,5 jam, sampailah kita di Surabaya. Horee...!!! Kita keluar dari stasiun dan langsung bertemu dengan sepupu - sepupu dan famili yang menjemput kita. Karena perut sudah lapar, mereka membawa kita makan malam di Rawon Setan. Semangkuk rawon ditambah telur asin dan sepiring nasi putih...nyam... :)

Malam itu kita bermalam di rumah saudara dan paginya kita berangkat menuju jembatan Suramadu, jembatan yang menghubungkan kota Surabaya dan Madura. Sepanjang jalan, kita melihat beberapa taman yang sengaja dibuat untuk mendukung program penghijauan Surabaya. Lalu lintasnya pun ga sepadat Jakarta. Karena waktu kita keliling Surabaya hanya sehari, kita ga sempat main - main di Madura. Begitu keluar pintu tol pulau Madura, kita langsung putar balik untuk masuk tol lagi ke arah Surabaya. Total biaya tolnya adalah Rp. 60.000; / mobil.





Di tengah perjalanan menuju Tunjungan Plaza Mal untuk makan siang, kita mampir di Monkasel -Museum Kapal Selam-. Di sana kita bisa masuk ke kapal selam buatan Rusia yang sudah tidak terpakai lagi dan di dalamnya kita dipandu oleh seorang Bapak dengan seragamnya yang menjelaskan fungsi - fungsi dari bagian kapal. Tiket yang kita beli sudah termasuk juga kesempatan untuk menonton film seputar kapal selam di area Monkasel, sayang kita harus melewatkannya karena sempitnya waktu.





Dari sana, kita langsung menuju ke TP Mal untuk makan siang sekalian mencari kado buat sepupu yang ultahnya dirayakan malam ini.

Perut kenyang, kado sudah didapat, jalan - jalan sebentar di Mal sebelum menuju ke Harvest untuk membeli kue ulang tahun. Malamnya kita makan - makan di XO Suki...


XO Suki Surabaya
Meskipun kita sudah capek, tapi kita tetap memaksakan diri untuk menghabiskan malam dengan berkeliling kota. Pemberhentian pertama adalah Loop, di mana terdapat banyak pilihan restoran.




Pemberhentian kedua adalah Surabaya town square atau lebih dikenal dengan Sutos untuk berkaraoke :) Dari sana, hari sudah menjelang pagi, kita pun pulang untuk beristirahat. Tak lupa di tengah jalan, beberapa dari kita membeli Mc D. Apaaa??? Makan lagi ??!!!! :))

Dan itulah akhir perjalanan kita di Surabaya sebelum siangnya kita berangkat ke stasiun untuk kembali ke Yogya. Untung kereta kali ini datangnya tepat waktu dan jauh lebih bersih daripada kereta sebelumnya, padahal harga tiketnya lebih murah lho!

Sampai di Yogya, hari sudah gelap. Dan untungnya lagi, Kali Putih ga banjir lahar lagi jadi perjalanan Yogya ke Magelang hanya memakan waktu sekitar satu jam :) So, goodbye Surabaya!