Thursday, November 10, 2011

Menikmati Kesejukan Kopeng

Dalam perjalananku yang kesekian kalinya ke Magelang, aku menyempatkan diri untuk mampir ke Kopeng, sebuah desa wisata yang sejuk di Jawa Tengah. 

Perjalanan dari Magelang memakan waktu hanya sekitar setengah jam dengan mobil. Udara yang sejuk, pemandangan yang tidak bisa ditemukan di Jakarta, dan harga sayur mayur serta buah-buahan yang cukup murah, membuatku betah melewatkan waktu di sana.

Gunung Telomoyo terlihat dari Kopeng









Kopeng disebut sebagai desa wisata karena memang di sana terdapat beberapa tujuan wisata, seperti air terjun, kebun strawberry dan Kopeng Treetop adventure park. Untuk wisatawan yang memerlukan tempat menginap pun, di sana banyak terdapat hotel dan beberapa villa yang bisa disewakan.

Kalau untuk urusan makanan, ada satu tempat yang jadi favoritku. Namanya Warung ngGoenoeng, meskipun bentuknya sendiri jauh dari kesan warung. Lokasinya ada di pinggir jalan raya Kopeng, tepatnya di KM 13,5. 

Sekali ke sana dan mencicipi makanannya, mulai dari iga gongso, tongseng iga, pisang penyet dan beraneka ragam minumannya yang cukup unik, seperti teh jahe tarik, memang cukup membuat aku ketagihan. Hasilnya, selama aku di Magelang, beberapa kali aku datang ke Kopeng hanya sekedar untuk menikmati sejuknya Kopeng dan ngopi-ngopi di sana :)



Gunung Telomoyo tampak dari Warung ngGoenoeng


Warung ngGoenoeng



Iga gongso



Tongseng iga



















































Sunday, May 22, 2011

Sendang Sono

Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya aku mengunjungi Gua Maria Sendang Sono. Beberapa hari yang lalu, mumpung ada di Magelang, aku mengajak hubby untuk mampir ke sana.

Dari Magelang, kita menuju kota Muntilan. Dari sini, kita harus mengandalkan GPS dan beberapa petunjuk arah menuju Sendang Sono, yang terletak di desa Banjaroyo, kecamatan Kali Bawang, kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Sebenarnya perjalanan yang harus kita tempuh tidak jauh, hanya saja GPS sempat membelokkan kita melalui jalan kecil, melewati sebuah desa. Mungkin itu seharusnya adalah jalan tersingkat menuju Sendang Sono tapi karena kondisi jalan berbatu - batu yang belum diaspal, ditambah kondisi saat itu hujan deras, kami memutuskan untuk kembali ke jalan raya dan mencari jalan lain yang lebih bagus dan aman untuk menuju Sendang Sono.

Tidak lama kemudian, kami sampai di jalan berkelok - kelok, yang sebenarnya hanya cukup untuk dilewati satu mobil. Tapi ternyata, jalan ini digunakan untuk dua arah, satu - satunya jalan untuk keluar dan masuk Sendang Sono. Meskipun jalan rusak di beberapa tempat, tapi jalan ini cukup layak untuk dilewati, bahkan oleh mobil sedan.

Beberapa ratus meter sebelum sampai ke tujuan, kita melihat ada jalanan menurun di sebelah kiri yang bisa membawa kita ke sebuah gereja, yang ternyata adalah awal dari jalan salib lama atau jalan salib besar yang jaraknya mencapai satu kilometer. Mobil kita terus melaju dan berhenti di lokasi parkir kendaraan di sebelah kanan jalan. Karena hujan masih cukup deras, kita tidak langsung turun dari mobil melainkan membuka bekal yang memang sudah kita siapkan dari rumah dan mulai menikmati makan siang kami di dalam mobil sambil berharap hujan akan segera reda.

Harapan kita terkabul. Hanya gerimis yang tersisa setelah kita selesai makan. Segera kita turun, mengambil kamera dan tidak lupa membawa payung untuk persiapan bila nanti hujan turun lagi. Memasuki kompleks Sendang Sono, kita harus melalui jalanan menanjak yang diapit oleh toko - toko kecil yang menjual berbagai macam lilin, rosario dalam berbagai ukuran, botol - botol untuk diisi air Sendang dan bunga - bunga yang sudah agak layu serta berbagai macam barang - barang rohani lainnya.



Sampai atas, kita belok ke kanan dan dari situ, gerbang masuk Sendang Sono sudah terlihat.



Begitu melewati gerbang tersebut, kita disambut oleh suasana Sendang Sono yang sejuk dan asri dengan banyaknya pepohonan di kanan kiri. Kita berjalan melewati beberapa pendopo yang sepertinya berfungsi sebagai tempat untuk berteduh, beristirahat dan sekaligus berdoa. Uniknya, pendopo - pendopo tersebut  mirip dengan bagian dari atap bangunan.



Dari situ, kita berbelok ke area jalan salib ...



...melewati sebuah bangunan yang sepertinya digunakan sebagai tempat misa...



...dan sebuah salib yang sangat besar.



Ada beberapa poster yang ditempelkan di tembok - tembok sekitar Sendang Sono yang, mungkin karena lokasi Sendang Sono yang berada di Jawa Tengah, menggunakan bahasa jawa. Ini contohnya :

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia : "Jangan menyembah berhala; menyembahlah dan setialah hanya kepada-Ku saja karena Aku melebihi segalanya."


TIdak lama, sampailah aku di depan gua Maria. Di depan gua, banyak bunga persembahan yang sudah mulai layu dan botol - botol tempat penyimpanan air sendang. Tempat untuk lilin - lilin persembahan ada di kanan kirinya dan sebuah tempat untuk membakar kertas - kertas yang berisikan doa atau pengharapan kita. Di belakangku, banyak terdapat bangku kayu kecil untuk umat yang ingin duduk di hadapan gua sambil berdoa.










Setelah melewatkan waktu sejenak untuk berdoa di depan gua Maria, kita menuju ke sebuah toko kecil yang lokasinya dekat dari situ. Di sana banyak dijual bermacam - macam rosario, salib, patung Yesus dan Maria. Di sebelahnya, terdapat kantin yang menjual minuman dan makanan kecil. Sambil berteduh dari gerimis yang kembali datang, kita memesan teh manis hangat. Di depan kita duduk, terlihat patung malaikat Raphael. Di bawahnya, berjajar toilet umum yang cukup bersih.



Karena hari sudah makin sore, dan kita ada rencana ke tempat lain, maka kita beranjak menuju parkiran mobil dengan tak lupa mampir ke tempat air sendang untuk sekedar membasuh muka sebagai penutup kunjungan kita ke Sendang Sono hari itu. 
























Thursday, April 28, 2011

Rumah Makan Sindang Heula (Abah)

Karena perjalanan aku dan hubby dari Jakarta ke Magelang terhambat kemacetan yang luar biasa parah di Pantura, kita memutuskan untuk mengubah rute melalui Subang – Lembang – Bandung, baru kembali lagi ke jalur Pantura melalui Cirebon.

Sebenarnya kita bisa langsung menuju Bandung tanpa melewati Subang dan Lembang, tapi mumpung kita ada di daerah sana, kita ingin mampir ke rumah makan Abah. Jadi ceritanya, dulu waktu kita berdua sering ke Bandung, waktu jalan tol Sadang masih belum ada, kita sering melewati daerah Subang dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Di Subang itulah kita sering mampir makan ikan mas bakar di rumah makan Abah. Ikan bakar di sana cocok sekali dengan selera kita berdua. Beberapa kali kita mencoba makan ikan mas bakar di tempat lain, tapi rasanya tidak ada yang seenak ini.

Di rumah makan Sindang Heula atau yang lebih dikenal dengan Abah ini, selain pelayanannya yang cepat, daging ikan masnya yang lembut dan sambalnya yang mantap dan sangat pedas di lidah, pemandangan alam yang terlihat dari rumah makannya benar – benar menyejukkan mata. Enak sekali duduk bersantai di sini –apalagi saat sore hari- sambil makan ikan mas bakar yang masih panas, nasi putih disertai sambal atau tambahan lauk, seperti bakwan jagung / sayur, tempe goreng dan tumis jamur.

Mereka juga menyediakan tempat makan lesehan yang terletak di atas kolam ikan mas. Jadi saat menunggu makanan siap, kita bisa melihat ikan – ikan tersebut dari tempat kita duduk. Kita juga boleh memberi mereka makanan. Seru sekali, lho..karena mereka akan berebut makanan tersebut dengan rakusnya.

Sindang Heula aka Abah


Ruangan rumah makan yang luas dan sejuk

Pemandangan yang terlihat dari tempat lesehan

Pemandangan dari teras rumah makan

Ikan mas bakar, salah satu menu andalan di Abah

Beberapa pilihan lauk tambahan







Sunday, April 17, 2011

Mencintaimu pagi, siang, malam (Kumpulan Puisi)




Buku yang berisi kumpulan puisi karya Andrei Aksana ini langsung menarik perhatianku karena desain covernya. Ga tau kenapa, aku selalu suka dengan warna merah di atas putih :)

Dan waktu aku asal membuka salah satu halamannya dan membaca isinya, aku makin penasaran sekaligus tertarik. Menurut aku, puisi - puisinya cukup ringan, ga bikin dahi berkerut untuk bisa mengerti arti di baliknya tapi sekaligus juga sangat indah dan menyentuh. Pas banget untuk dibaca waktu kita sedang bersantai. Salah satu buku yang harus aku bawa saat travelling :)

Penasaran? Ini beberapa puisinya :





My Stupid Boss 3



Buku terbaru dari penulis yang menamakan dirinya chaos@work. Dan seperti buku - buku sebelumnya (My Stupid Boss 1 & 2), buku yang ini juga sukses bikin aku ngakak habis! Bacaan yang ringan, seringan - ringannya, dan terutama cocok dibaca saat kita sedang merasa bete :))

Aku juga suka sama desain cover nya dengan tulisan timbul dan perpaduan warna merah di atas putih. Moga - moga saja masih ada kelanjutannya : My Stupid Boss 4. Hehehe...

Saturday, April 16, 2011

Bali Once More

Bulan Februari 2011, sekali lagi aku dan hubby jalan - jalan ke Bali. Kenapa ke Bali lagi? Jadi ceritanya, tahun lalu, aku beli voucher hotel Mara River Safari Lodge Bali waktu ada pameran travel di JCC. Lumayan lho, diskonnya sampai 50% dari harga kamar. Dan voucher itu bisa digunakan hanya sampai akhir Maret 2011. Itulah salah satu alasan kenapa kita memilih Bali lagi sebagai tujuan jalan - jalan kita Februari lalu. Padahal sebenarnya hubby sudah mulai bosen jalan - jalan ke Bali, maunya cari tempat lain yang kita belum pernah pergi. Kalau aku sih, mau berapa kali ke Bali juga ga masalah. Habis, tiap kali pergi ke sana, pasti ada saja pengalaman baru, suasana baru :)


TRANSPORT
Seperti biasa, kita memilih Air Asia sebagai sarana transportasi kita dari Jakarta - Bali - Jakarta. Karena bukan musim promo, harga tiket yang kita dapat juga ga terlalu murah. Untuk penerbangan pulang pergi berdua, total tiket sekitar Rp. 1.400.000; sudah termasuk satu bagasi yang 15 kg. Penerbangan Jakarta - Bali ga ada delay sama sekali tapi untuk penerbangan Bali - Jakarta, sempat ada delay sekitar satu jam. Yah, ga parah - parah amat, lah untungnya. 
Dan ternyata perjalanan kita ke Bali bertepatan dengan konsernya Iron Maiden. Pantes, malam pertama di Bali, area Kuta dan Legian yang biasa rame, jadi sepi banget. Sepertinya banyak turis asing maupun lokal yang sengaja datang ke Bali untuk menonton konsernya.

Pesawatnya Iron Maiden tampak dari jauh di bandara Ngurah Rai.

Di Bali, tepatnya waktu kita menginap di kawasan Poppies lane, kita sempat menyewa motor selama dua hari. tarif per harinya adalah Rp. 50.000;. Motor kita sewa dari salah seorang karyawan hotel tempat kita menginap karena kebetulan selain kerja di sana, dia juga mempunyai usaha sampingan, yaitu menyewakan motor dan mobil. Seandainya kita menyewa motor di pinggir - pinggir jalan, sepertinya tarifnya akan lebih murah karena saat itu sepertinya Bali sedang sepi alias low season.



AKOMODASI
Harmony Legian
Hotel yang satu ini memang sudah jadi langganan kita tiap kali kita ke Bali. Dengan tarif kamar seharga Rp. 350.000; / malam, kita sudah mendapatkan cukup banyak fasilitas, seperti antar jemput bandara - hotel - bandara, makan pagi, AC, air panas untuk mandi, TV dengan chanel internasional, wifi dan adanya kolam renang di hotel, meskipun kecil.

Apalagi lokasinya yang terbilang sangat strategis, karena berada di jalan Legian. Mau belanja? Tinggal jalan kaki keluar hotel, ambil arah kiri atau ke kanan. Mau sewa mobil / motor? Tinggal pesan di resepsionis, dengan tarif standar. Kebersihan kamar dan area lobby maupun kolam renang juga cukup bagus, kok.

Harmony Hotel Legian


Pesona Beach Inn
Aku dapat informasi tentang hotel ini dari rekomendasi sesama travellers di internet. Hubby pengen coba menginap di hotel yang lebih murah dari Harmony tapi masih di kawasan Kuta atau Legian. Banyak sekali rekomendasi / review tentang hotel - hotel backpackers di kawasan Poppies lane dan ada beberapa hotel yang masuk dalam daftarku. Karena banyak yang bilang kalau Pesona Beach Inn (PBI) ini sangat bersih meskipun murah, aku memutuskan untuk mencoba menginap di sana untuk dua malam.

Ternyata apa yang kita dapat di PBI melebihi harapan kita. Kamarnya sangat bersih, kecuali lemari pakaian dan laci - laci meja TV nya yang agak berdebu. Tapi itu ga jadi masalah sama sekali. Yang jelas, kecil sekali kemungkinan binatang yang aku benci, yaitu kecoak, mau masuk ke kamar yang sebersih itu. Kamar mandinya pun sangat bersih, dilengkapi dengan kaca, wastafel, dan air panas. Enaknya lagi, kita dapat kamar persis di depan kolam renang. Jadi kalau mau berenang gampang, ga usah kunci - kunci pintu segala.

Makan pagi juga tersedia dan sudah termasuk dalam tarif kamar yang seharga Rp. 280.000; / malamnya. Bukan makan pagi yang mewah sih, hanya satu teko kopi / teh, 2 lembar roti tawar panggang, telur, selai dan mentega serta potongan buah - buahan. Yang penting bisa bikin kenyang :)

Memang dari segi pelayanan, Harmony masih lebih unggul. Staff di PBI meskipun ramah tapi terkesan masih kurang profesional. Tapi sekali lagi, itu bukan masalah buat kita. Malah, kalau ada kesempatan ke Bali lagi, kita pasti akan menginap di sana...lagi :)

Jalan masuk ke Pesona Beach Inn dari Poppies 1



Taman di dalam Pesona Beach Inn

Kamar kita di lantai 1 di depan kolam renang

Kamar mandi yang bersih, lengkap dengan bathtub dan air panas

Makan paginya


Mara River Safari Lodge
Hotel ini terletak di daerah Gianyar, sekitar satu jam perjalanan dari bandara Ngurah Rai, di dalam kompleks Bali Safari and Marine Park. Jauh? Jangan khawatir, karena mereka menyediakan fasilitas antar jemput untuk tamu yang menginap di sana.

Kalau memang ada dana lebih, boleh lah menginap di sini meskipun hanya untuk satu malam. Untung, tahun lalu aku sempat ke pameran travel di Jakarta dan mendapatkan diskon 50% untuk menginap di Mara. Aku dan hubby menginap di unit Twiga, yang terletak di lantai dua. Kondisi kamar bersih dan dilengkapi fasilitas - fasilitas seperti layaknya hotel berbintang. Uniknya, di masing - masing kamar juga disediakan satu keranjang kecil berisi wortel. Jadi kalau kita sedang iseng atau bersantai di balkon, kita bisa melempar wortelnya ke zebra - zebra yang sering merumput di halaman bawah. Atau kita bisa membawa wortelnya ke samping kolam renang untuk memberi makan rusa - rusa yang dibiarkan berkeliaran dengan bebas di sana. Pengalaman yang ga boleh dilewatkan :)

Untuk makan malam, hanya ada satu restoran di sana, yaitu Tsavo Lion Restaurant. Sebelumnya kita harus memesan meja dulu di resepsionis hotel atau langsung di restorannya supaya kita bisa mendapatkan meja di sebelah kaca yang memisahkan pengunjung restoran dengan singa - singa di Taman Safarinya. Sambil makan malam, kita bisa melihat aktivitas para singa di depan mata kita tanpa dibatasi oleh pagar, hanya kaca yang sangat besar. Makanannya enak, harganya pun masih terjangkau. Untuk makan paginya, gratis! Karena itu sudah termasuk dalam harga kamar.

Jangan lupa juga untuk menyediakan waktu berkeliling di Taman Safarinya. Meskipun tidak seluas Taman Safari yang ada di Puncak, tapi hewan - hewan yang ada di sini sepertinya lebih beragam. Tempatnya juga lebih bersih daripada Taman Safari Puncak.

Tempat tidurnya
Kamar mandinya
Jalanan di depan kamar
Bisa kasih wortel ke rusa - rusa yang ada di samping kolam renang


MAKAN - MAKAN
Flapjaks
Ini yang pertama kalinya kita makan di Flapjacks, gara - gara aku tertarik dengan review nya di internet. Kita coba makan pancake nya, gelato nya dan juga peach tea nya. Kesimpulannya, semuanya enak! Sayang hubby ga terlalu suka sama pancake nya. Selera orang memang beda - beda ya..


Flapjaks


Maxi Restaurant
Di sini kita makan sate campur dan sop buntut, sudah lengkap dengan nasi putih. Semuanya enak! Harga juga standar.

Maxi resto waktu malam

Si Doi Restaurant
Ini sudah yang kesekian kalinya kita makan di sini. Menunya juga selalu sama, yaitu pork chop. Kalau menurutku, dengan porsi yang besar, harga yang dipatok cukup murah. Tapi selain pork chop, mereka juga menyediakan menu - menu yang lain, lho.

Pork steak

Tsavo Lion Restaurant
Kalau yang ini sih sudah pasti OK banget! Makanannya enak, pelayanannya bagus, tempatnya juga unik. Sayang lokasinya jauh dari daerah Kuta / Legian.

Makan malam di Tsavo
Dengan lokasi singa sebagai latar belakangnya
Makan pagi di Tsavo

Bamboo Corner
Kita makan di sini karena review yang bagus di internet dan karena kebetulan restoran ini dekat dengan tempat kami menginap. Memang harganya murah tapi waktu itu kami memesan chinese food dan menurut kami, itu adalah makanan paling tidak enak yang pernah kita makan di Bali. Mungkin western atau indonesian food nya lebih enak??


JALAN - JALAN
Pantai Kuta
Yep! Kalau ke Bali, pasti harus ke sini, meskipun cuma duduk - duduk sebentar untuk menunggu matahari terbenam. Tapi sayang, kali ini, untuk yang kesekian kalinya, kita melihat banyak sampah bertebaran di sepanjang pantai. Belum lagi, pedagang - pedagang yang menawarkan pijit atau barang dagangan mereka dengan setengah 'memaksa'. Lama kelamaan, kok kita merasa bahwa pantai Kuta makin tidak nyaman. Belum lagi, makin banyaknya hotel - hotel mewah yang dibangun di sepanjang jalan pantai. Jadi makin mirip Jakarta :(

Pantai Kuta di pagi hari

Pantai Dreamland
Aku pernah ke sini bersama keluarga bertahun - tahun yang lalu, waktu masih belum banyak orang yang mendengar tentang keberadaan pantai ini. Waktu jalan masuk dari gerbang Pecatu saja masih jelek banget, dan untuk turun ke pantainya, kita harus turun melalui tangga batu yang cukup curam. Dulu pantainya masih bisa dibilang indah, sepi. Makanya aku terus berusaha mengajak hubby ke sini, karena aku tahu dia pasti suka.

Pas kemarin kita ke sini, wahh... ternyata pantainya sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Banyak dibangun resort - resort mewah di sekitarnya, toko - toko dan yang lebih parah lagi, banyaknya sampah yang mengumpul di salah satu pojokan pantai. Sepertinya, hubby tidak mau lagi diajak ke Dreamland. Dia bilang, "Ternyata sudah jauh - jauh ke sini, pantainya cuma begini!" :(  Memang modernitas tidak selamanya bagus.

Pantai Dreamland / the new Kuta beach
Terpesona oleh Dreamland
Sewa kursi pantai sepasang Rp. 50.000; untuk seharian
Terpaku oleh banyaknya sampah yang mengumpul

Pantai Gado - Gado
Waktu kemarin iseng - iseng melihat peta Kuta / Legian / Seminyak, ada satu pantai yang cukup sering disebut di internet tapi belum pernah kita kunjungi. Jadi, berangkatlah kita ke sana dengan menggunakan motor. Lupa pakai jaket lagi, padahal siang hari itu, Bali panas banget! Pulang dari sana, kulit langsung gosong :D

Pantainya berpasir hitam dan lebih banyak turis asing daripada lokal. Mungkin karena di sekitarnya, banyak bertebaran hotel - hotel mewah. Tapi yang namanya pedagang tetap ada saja. Baru 'mendarat' di pantainya, aku sudah disambut oleh ibu - ibu penjual gelang, kalung, termasuk yang menjual jasa pijit dan mempercantik kuku. Karena iseng, aku membiarkan kuku jari tanganku dicat ala Bali, dengan gambar bunga - bunga, tentunya setelah proses menawar yang agak panjang. Sempat membeli tiga buah gelang kaki juga karena capek dipaksa untuk beli. Tapi tetap saja banyak pedagang yang menghampiri dan 'memaksa' aku untuk membeli barang dagangan mereka, padahal barangnya juga sama, gelang - gelangan juga... Tidak terhitung berapa kali aku harus menolak mereka. Fiuh... Hubby sih sudah kabur duluan untuk foto - foto.

Sepertinya lain kali ke Bali lagi, kita bakal datang ke pantai ini lagi. Meskipun pantainya tidak bisa buat berenang, tapi suasananya lebih sepi dan lebih bersih dibanding pantai Kuta.

Santai sejenak

Cat kuku ala Bali


Payung pantai dengan logo AirAsia
Sepasang
Penjaga pantainya

Discovery Mall
Sudah beberapa kali ke Bali, tapi baru kali ini kita mendengar tentang mall ini yang pintu belakangnya langsung mengarah ke pantai. Hasilnya, selama kemarin kita di Bali, beberapa kali kita datang ke sini untuk sekedar foto - foto, jalan - jalan di pantainya dan hubby malah sempat membeli kamera di sini untuk menggantikan kamera kita yang rusak pas di Bali kemarin.

Di depan salah satu resto di kawasan Discovery Mall


Jadi itulah cerita aku tentang jalan - jalan kita ke Bali dua bulan yang lalu. Moga - moga pas lain kali kita ke Bali lagi, pantai - pantainya sudah jauh lebih bersih.